Bara Dendam Sang Prabu Boko
Rahulana membawa perspektif hukum yang sangat kaku, tekstual, dan cenderung dogmatis, sama sekali mengabaikan emosi dan simpati yang baru saja muncul.
"Yang Mulia Maharaja, segenap Mahamentri dan Rakai Dewan Sapta Prabu yang terhormat," Wiku Rahulana membuka perkataannya, sembari membetulkan lipatan jubah keagamaannya yang bersih dan sempurna. Suaranya terdengar seperti lonceng perunggu yang memukul berirama, nyaring dan tanpa emosi. "Kitab Dharma Mandala, landasan utama seluruh hukum dan tatanan spiritual kerajaan kita, dengan jelas menyebutkan bahwa tindakan makar, atau rajadroha, terhadap penguasa sah adalah sebuah noda keji yang hanya bisa dibasuh dengan danda — hukuman — tertinggi, yait
Bab Populer