Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Bidadari tak Sempurna

Bidadari tak Sempurna

Segera kugeser tombol hijau pada layar ponselku. [Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh] [Wa’alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh, kamu dari mana saja? Aku kepikiran. Apa kamu baik-baik saja? Mas alif kemana? Kenapa aku tak boleh menghubungi Mas Alif? Kenapa ibuku juga tak boleh mendengar pembicaraan ini? Rania, aku cemas memikirkan kamu. Aku khawatir dan takut kehilangan kamu.]
9.93.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 90 kali sebagai poster bumi menangis
Baca
+Pustaka
Dunia Azura Penuh Duka

Dunia Azura Penuh Duka

Jawab Lisa dengan berbohong bahwa azura sedang sakit sebenarnya anak itu ia paksa untuk sesi pemotretan hari ini. "Oh begitu, baiklah buk semoga azura nya cepat sembuh ya buk. Titip salam buat azura. Saat ingin mengakhiri obrolan buk dita mendengar tangis terisak-isak seperti suara azura, yang membuat buk dita semakin curiga. "Terimakasih buk Dita". Jawab Lisa dan mereka pun mengakhiri obrolan.
102.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 93 kali sebagai poster bumi menangis
Baca
+Pustaka
DUNIAKU YANG HILANG

DUNIAKU YANG HILANG

Chomolungma" yang artinya Dewa Ibu Dunia. .......... Ponsel Savanna bergetar, jam menunjukkan pukul 02:00 (GMT+2) waktu Milan berarti di Indonesia jam 20:00 WIB, selisih 5 jam. Tangan Savanna meraba-raba mencari ponsel dengan mata yang setengah terpejam. Dilihatnya layar ponsel, Thoriq! Ia langsung bersandar di kasur dengan tubuh berbalut selimut tebal hingga leher begitu melihat video call.
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 104 kali sebagai poster bumi menangis
Baca
+Pustaka
Gundik Bangsawan Belanda

Gundik Bangsawan Belanda

Sina membuka tangannya lebar sambil memamerkan api biru ditubuhnya. Badai yang semakin kencang membuat hutan semakin riuh karena suara ranting dan daun yang bergesekan. Pohon-pohon serta ranting kecil mulai patah dan tumbang. Mahluk-mahluk kecil itu segera sadar bahwa mereka bukanlah tandingan sang Dewi. "Berlutut dan menyembah lah padaku!"
1012.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 433 kali sebagai poster bumi menangis
Baca
+Pustaka
Dia Gampang Dibujuk

Dia Gampang Dibujuk

Matanya sudah merah. "Aku yang nggak bisa membedakan batas, aku yang memanjakan Bella. Aku yang menjadikanmu sebagai pengganti, tapi menikmati cintamu dan semua yang kamu berikan dengan tenang. Aku bajingan, aku ...." Sejujurnya, ini pertama kalinya aku melihat Arthur menangis. Aku pernah melihatnya tertembak berkali-kali saat menjalankan misi, juga pernah melihatnya dikepung pengkhianat dengan tubuh penuh darah. Namun, dia bahkan tidak pernah mengernyit.
3.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 88 kali sebagai poster bumi menangis
Baca
+Pustaka
Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib

Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib

Dia menatap Tuan Santoso dengan serius. "Dan kalau itu terjadi," bisiknya dengan nada ngeri, "Bima bisa berubah menjadi monster yang tidak bisa dikendalikan. Sama seperti yang terjadi pada guru sebelumku—The Previous Poison Sage—yang akhirnya mati karena dikonsumsi oleh racunnya sendiri." Tuan Santoso terdiam, merasakan beratnya kekhawatiran Nenek Badar. "Apa yang bisa kita lakukan?" tanyanya akhirnya.
104.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 112 kali sebagai poster bumi menangis
Baca
+Pustaka
Dikontrak Jadi Istri Tuan Presdir

Dikontrak Jadi Istri Tuan Presdir

Diego menatap haru pada Jimmy karena membelanya. "Kakek jangan terlalu lemah sama Diego. Dia emang gitu bentukannya." Dan raut haru itu harus diganti dengan tatapan jengkel. Apakah Bumi tidak bisa membiarkan dirinya bahagia hanya sebentar saja? "Udah, jangan pasang muka kaya begitu. Gak pantes sama muka serem lo." Nah kan, Bumi itu salah satu spesies manusia yang suka merusak suasana. Untung saja Diego tahan.
101.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 74 kali sebagai poster bumi menangis
Baca
+Pustaka
Bencana Termanis

Bencana Termanis

Keringat dingin membasahi dahi Ivana, pun tangannya basah akan keringat. “Semua akan baik-baik saja, Sayang. Kamu percaya mama, kan?” Tangan Windy terulur mengelus lengan Ivana untuk memberi kekuatan. “Jangan terlalu gugup, lihatlah wajahmu berkeringat,” lanjut Windy.
102.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 72 kali sebagai poster bumi menangis
Baca
+Pustaka
Gadis Tanpa Mata Batin

Gadis Tanpa Mata Batin

“KAU GAGAL, DIAH!” Suara itu bergema di seluruh ruang sesembahan, membuat lilin-lilin bergetar seolah akan padam. Bayangan di sudut ruangan mulai bergerak, memanjang, dan membentuk sosok besar yang menyerupai makhluk bertanduk dengan mata merah menyala. Bu Diah jatuh berlutut di depan altar, tubuhnya gemetar. “Ampuni saya… Saya sudah berusaha. Saya tidak tahu kenapa ini terjadi…” suaranya serak, penuh ketakutan.
1.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 31 kali sebagai poster bumi menangis
Baca
+Pustaka
Bolehkah Aku Menangis

Bolehkah Aku Menangis

Chicy bersandar di kursi kayu. Lebam di tubuh sebagian terlihat. Sedih melihat keadaan diri begitu teraniaya. Ada trauma membayangkan kejadian malam itu. Jika ayah masih hidup, paman tak akan berani menyakitiku. Ah, air dari netraku kembali menyiram. "Obat apa yang bisa menyembuhkan lebamku?" tanyaku menatap Chicy dan sesekali melirik warna ungu di tangan.
3.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 106 kali sebagai poster bumi menangis
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
9
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status