Rumah Tengah Hutan
Merasakan sakit tidak terkira
Bahkan, jiwaku lemas melihatnya
Aku menangis, dia tambah menangis
Akhirnya aku tertawa, dia tersenyum
Bahagiaku, ternyata bahagianya
Aku tidak menyangka, mataku untuknya
Betapa tidak mungkin aku menginjak
Semata hidup hanya untuknya
Ibuku, berjalan dari gunung satu
Mengunjungi gunung selanjutnya
Untuk pertahanan hidup kita
Jika aku menangis, dia berkata
“Untuk apa kamu menangis, hidupmu masih panjang, teruslah berjuang, anakku!”
Itulah ibuku, hidupku selalu ibuku
Setelah membacakan sajak itu, saya terdiam sejanak, menyembunyikan air mata yang akan tumpah. Entah kenapa santri-santri banyak yang menangis pula, lebih-lebih santri putri. Saya yang berdiri di depan,
인기 회차