Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Atas Nama Pohon Suci

Atas Nama Pohon Suci

Oleh sebab itu, dia paham betul bagaimana bertahan hidup lintas zaman. "Enak gimana? Mengkritik bisa hilang,” timpal Cak Contong. "Ya, bisa-bisa dicor dibuang ke laut,” sahut Cak Lamis. "Itu kan yang mengkritik, yang narik becak, ya aman-aman saja," balas Cak Kamid. “Insya Allah.”
105.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 223 kali sebagai puisi kritikan
Baca
+Pustaka
Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan

Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan

Sabun berbusa tapi ia tidak peduli. Kata-katanya canggung, tata bahasanya salah, rimanya tidak jelas, tapi tulus. "Mata Raisa seperti bintang di langit Bandung". Ia tertawa waktu itu, bilang itu puisi paling konyol yang pernah ia dengar. Tapi ia simpan sampai sekarang di laci. Lipat rapi. Seperti artefak dari kehidupan lain. Sekarang satu-satunya puisi yang kau tulis adalah laporan keuangan. Angka dan grafik. Tidak ada ruang untuk perasaan.
19.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 418 kali sebagai puisi kritikan
Baca
+Pustaka
🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER

🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER

Teks penyertanya singkat dan beracun: “Gagal review seni, lalu cari simpati.” Komentar-komentar di bawahnya menumpuk dalam hitungan detik, menyerupai tumpukan kerikil tajam yang dilemparkan satu per satu—setiap kalimat tidak mematikan secara instan, namun cukup untuk menyayat harga dirinya. 💬 Jago banget pura-pura lemah. 💬 Kayaknya disokong senior juga udah nggak cukup buat nutupin ketidakmampuannya.
10887 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 33 kali sebagai puisi kritikan
Baca
+Pustaka
Hidup Kembali di Zaman Kuno

Hidup Kembali di Zaman Kuno

Guru: "Sastra bukan sekedar untaian kata. Ia adalah cermin jiwa dan perjalanan zaman. Nah, siapa di antara kalian yang dapat menjelaskan makna bait pertama ini?" Seisi kelas diam, hingga Raka mengangkat tangan dan mulai berbicara dengan lancar. Raka: "Puisi ini bukan sekedar mengisahkan keberanian, tapi juga pengorbanan. Seorang pemimpin sejati bukan hanya menggenggam pedang, tapi juga berpikir jauh ke depan. Seperti pepatah, 'Mata pena lebih tajam dari mata pedang.'"
1012.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 336 kali sebagai puisi kritikan
Baca
+Pustaka
Sistem Super Boros

Sistem Super Boros

Jangan tinggalkan celah apa pun. Guan Fei merasa sedikit tidak senang ketika memikirkan topik esai itu. "Alasan saya memarahi mereka adalah untuk mengembalikan martabat para kandidat. Saya berani melakukan hal-hal yang tidak berani mereka lakukan, dan saya bisa melakukan hal-hal yang ingin mereka lakukan tetapi tidak bisa mereka lakukan." "Tapi banyak orang menganggap kemampuan sastramu kurang. Meskipun kamu bermaksud menggunakan puisi di akhir esaimu, ritmenya kurang tepat dan bahkan agak tidak koheren. Bagaimana menurutmu?"
102.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 68 kali sebagai puisi kritikan
Baca
+Pustaka
Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia

Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia

“Tetap saja, setiap karya pasti punya jalan takdirnya sendiri. Ada yang menyambut dengan gembira, ada juga yang menentangnya. Aku pernah dikritik keras, bahkan dituduh terlalu menyederhanakan sejarah. Tapi bagiku, itu bagian dari napas sebuah karya. Kritik pun adalah bentuk perhatian, sudut pandang yang berbeda yang justru memperkaya diskusi. Selama itu jujur dan tulus, aku menerimanya sebagai asupan—bahan bakar untuk terus menulis.” “Dan itu sehat,” jawab Sita cepat, suaranya tenang. “Kritik adalah bentuk keterlibatan. Saat orang mau repot-repot menulis ulasan panjang, itu artinya karyamu menggugah sesuatu dalam diri mereka. Lebih menakutkan kalau tak ada yang peduli.”
1011.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 321 kali sebagai puisi kritikan
Baca
+Pustaka
Neng Zulfa

Neng Zulfa

"Jadi gimana? Kamu mau kan? Lakukan ini buat orang-orang yang selama ini dukung kamu. Kalau bukan untuk diri kamu sendiri, lakukan untuk mereka. Bungkam kritikus-kritikus yang hina karya kamu selama ini. Bungkam orang-orang yang ngatain kamu nggak punya moral dan agama! Tunjukkin ke mereka kalau kamu penulis yang serba bisa." Pelita menatap Cecil yang tampak berapi-api di depannya. Untuk pertama kalinya, perempuan yang lebih tua dua tahun dari dirinya itu berkata panjang lebar di depannya yang isinya bukan omelan. Bertahun-tahun terjun di dunia tulis-menulis dan dua tahun produktif menerbitkan novel, Pelita paham benar pahit manisnya literasi. Selain pujian, banyak hinaan yang diterimanya da
106.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 166 kali sebagai puisi kritikan
Baca
+Pustaka
Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama

ia menghilang saat mentari turun dari peraduanya tak sanggup ku kepakkkan kembali sayap ini ia telah patah… tertusuk duri duri yang tajam… hanya bisa meratap… meringis… mencoba mengapai sebuah pengangan…" Kak Citra membacakan puisi dengan penuh penghayatan. Musik masih mengalun pelan di sampingnya. Kak Citra seakan-akan bisa memboyong piala juara jika dia ikut kompetisi. Namun tidak dilakukannya. Dia tahu, dia memang sebagus itu. Kahlil Gibran adalah idolanya.
1015.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 532 kali sebagai puisi kritikan
Baca
+Pustaka
Days to Remember

Days to Remember

Kenapa menyalahkanku? "Nana." Riski juga datang dengan tergesa-gesa entah dari mana. "Pekerjaan kamu sia-sia, Na, karya kamu sudah diakui orang lain," ungkap Ani menyela Riski. "Iya, ternyata Icha. Icha yang sudah ngaku-ngaku kalau itu puisi buatan dia. Itu pasti demi nilai, kecil-kecil udah jadi ular," ujar Riski, yang sudah tahu fakta puisi itu. Berkat Ani yang tak sengaja ember ke Tri.
102.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 105 kali sebagai puisi kritikan
Baca
+Pustaka
Di Ambang Gila

Di Ambang Gila

"Tapi disengaja. Itu bukan kekacauan karena ketidakmampuan, tapi sebuah representasi dari kekacauan internal. Setiap goresan punya maksud. Setiap percikan cat adalah sebuah letupan emosi yang terkontrol dengan buruk." Ares terdiam sejenak, terkejut. Kebanyakan orang memuji "energi"-nya atau "keberanian"-nya. Tidak ada yang pernah menggunakan kata "terkontrol dengan buruk" dengan nada yang begitu klinis, seolah-olah sedang mendiagnosis. "Kau seorang kritikus seni?" tanyanya, mengejek. "Seorang peneliti," balas Elara. Matanya tak lepas dari mata Ares, mempertahankan kontak yang membuatnya tidak nyaman. "Aku mempelajari pola. Perilaku. Emosi."
1.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 20 kali sebagai puisi kritikan
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status