Air Mata di Hari Persandingan
Pria itu pun bergegas menuju ke ruangannya yang berada di sebelah ruangan interview tersebut.
"Bramantyo Sastro Nugroho, kita lihat, seberapa bahagianya duniaku menertawakan dirimu, seberapa menderitanya dulu penderitaan bathin yang kurasakan karena kamu? Ya, kamu yang selalu dinomorsatukan dan aku yang selalu dianggap tidak ada, kamu yang selalu diagung-agungkan, sementara apa pun usaha yang kulakukan tak pernah bernilai di hadapan Papa, kamu yang selalu dibangga-banggakan, dan sekarang saatnya semua berbalik kepada dirimu sendiri!" Seutas senyum sumbang terkembang di bibirnya, seruak dan seirama dengan dengusan penuh kepuasaan dan juga kebencian yang menggema dalam dinginnya ruangan itu se
Hot Chapters