SUJUD TERAKHIR EMAK
Suara hatinya berperang, membuat kata-kata macet di tenggorokan.
Gita hanya tersenyum, seperti sudah tahu bahwa benih keraguan itu sedang tumbuh di hati sahabat lamanya. Ia meraih cangkir kopi, menyesapnya pelan, lalu berucap lirih, nyaris seperti bisikan:
“Pikirkan baik-baik, Rin. Hidup cuma sekali. Kamu mau terus jadi pecundang… atau hidup sebagai pemenang?”