Selir Shen: Menulis Ulang Takdir di Istana Dingin
Jarinya menari cepat di atas keyboard, mulutnya tak berhenti berceloteh.
“Siapa juga yang bikin deadline jam dua belas malam,” gerutunya.
Ia berhenti sejenak, melirik kursi kosong di sekelilingnya, lalu menyeringai kecil. Selesai mengetik satu paragraf laporan, Shen Yaoqing menyandarkan punggungnya, meraih ponsel, dan membuka aplikasi novel. Layarnya langsung menampilkan halaman terakhir yang ia baca siang tadi, novel berlatar dinasti kuno yang sedang populer.