Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Cintaku T'lah Mati

Cintaku T'lah Mati

Hotpot itu terlalu panas, jadi aku hanya mencelupkan sedikit daging ke saus pedas dan mencicipinya sedikit demi sedikit. Saat tengah menikmati makanan, kulihat Phil sudah bermandikan keringat. Aku menyuruhnya ke dapur untuk ambil air minum. Begitu dia pergi, sendokku terjatuh ke lantai. Saat aku menunduk untuk mengambilnya, tiba-tiba darah mengalir deras dari hidungku. Aku buru-buru menutupinya dengan lengan bajuku.
10.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 335 kali sebagai rintihan kuntilanak
Baca
+Pustaka
PELUKAN BERDARAH

PELUKAN BERDARAH

“Dari Sosialita ke Pecandu—Kisah Kejatuhan Rini” Nayla, yang sudah menonton siaran itu dari kamarnya, tersenyum puas. Senyum itu semakin lebar saat ia melihat foto Rini—mata merah, rambut acak-acakan, tangan melingkar di leher Winda—beredar di seluruh dunia hiburan. Bagi publik, itu adalah skandal besar. Bagi Nayla, itu adalah langkah kemenangan.
101.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 55 kali sebagai rintihan kuntilanak
Baca
+Pustaka
KUNYIT DARI SARANJANA

KUNYIT DARI SARANJANA

Sebelum memulai latihan, Lawen dan kecek harus melakukan ritual dulu, mandi di pantai Oka-oka dan berjemur di atas gunung Halau-halau selama satu hari. Setelah ritual itu selesai di lakukan. Lawen dan Kecek di minumkan air kembang 300 rupa, lalu menunggu restu dari penunggu asli Pulau Oka-oka . Jika mereka layak maka ilmu kuntau baru bisa di ajarkan. Di atas gunung Maratus Lawen dan Kecek berlatih ilmu kuntau dari Kakek Jawo, dengan semangat tinggi hujan badai mereka tetap berlatih kuntau. Sebuah petir menyambar pohon besar tepat di samping Lawen, dengan mandau di tanganya mampu membelah pohon yang tumbang ke arahnya.
101.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 51 kali sebagai rintihan kuntilanak
Baca
+Pustaka
Runtuh di Tangan Karma

Runtuh di Tangan Karma

Selama ini Grup Suwira memang berkembang pesat, tetapi Grup Linarta sudah lebih dulu memindahkan sebagian besar aset ke luar negeri, yang tersisa hanya sebagian kecil. Sedangkan kesalahan terbesarku adalah memelihara dua orang yang tak tahu balas budi!
2.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 69 kali sebagai rintihan kuntilanak
Baca
+Pustaka
Ku Titip Rinduku Dalam Naungan Cinta-Mu

Ku Titip Rinduku Dalam Naungan Cinta-Mu

Memang tak harus memiliki Itulah yang membuatku Berusaha melupakanmu Tapi rasa rindu ini Bagaimana caraku untuk bisa menghilangkannya? Akankah hati ini terus tersiksa Pada rindu yang tak bertepi? Yang membuat air mata ini jatuh. *** "Tentang rindu yang terpendam" Dibawah sebuah pohon yang teduh Beralaskan rerumputan hijau Hiasan air mata yang menetes Dan suara hati yang menangis
102.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 89 kali sebagai rintihan kuntilanak
Baca
+Pustaka
Sang Pendekar

Sang Pendekar

teriak Randini mengarah kepada Kuntila. Namun, Kuntila sangat lemah dan lengah, punggungnya terkena sabetan pedang musuh dan jatuh seketika dengan punggung bersimbah darah. Melihat pemandangan seperti itu, Randini naik pitam. Ia kembali melakukan serangan dengan terus menebas-nebaskan pedangnya ke arah pria berikat kepala merah itu.
9.9166.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 6.0K kali sebagai rintihan kuntilanak
Tampilkan Ulasan (150)
Baca
+Pustaka
CahyaGumilar79
Terima kasih untuk semuanya yang sudah mampir di cerita ini. Buat Reader semua yang suka dengan karyaku, kalian bisa mampir juga ke cerita lainnya. Pandu Kesatria Genda Yaksa, Wanara, Sang Pendekar Season 2. Segala bentuk dukungan dari kalian sangat berarti buat aku sebagai penulis. Terima kasih...
Zhu Phi
Kalau berkenan mampir ya kak Cahya di Ksatria Naga Phoenix Ditunggu review-nya dan sarannya Terima Kasih Numpang promote juga ya Kisah ini bersetting kerajaan, persilatan, fantasi, serta misteri yang tidak terpecahkan
Baca Semua Ulasan
Pelarian Nikah Siri

Pelarian Nikah Siri

Umpat Aban melayangkan pukulan ke udara. Berulang kali Aban meremas kuat rambutnya juga berteriak penuh kesal. "Maafkan aku, Sinta!" teriaknya penuh penyesalan. Aban tersadar bahwa di kantong celana ada benda pipih milik Laila yang selalu digunakannya untuk berjudi online. Seketika pikirannya terkenang pada sang mantan istri, Sinta. Gegas Aban menghubungi Sinta, tanpa memikirkan Laila yang masih menangis di dalam kamar hotel.
101.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 39 kali sebagai rintihan kuntilanak
Baca
+Pustaka
Istri Nakal Mas Petani

Istri Nakal Mas Petani

Ia bangkit dan menendang pria yang baru dilepaskannya sekali lagi. Tak jauh dari sana, Saptono dan Hendro ikut mematung mendengar nama Sutrisno disebut. Hal itu diluar dugaan mereka. Alat penyemprot masih bergelimpangan. Wira mengangkat salah satu tabung seng yang masih berisi cairan racun dan melemparkannya ke arah dua pria yang sibuk menyalakan motor. Tabung itu menghantam punggung pria di boncengan. Motor itu hanya terhuyung tapi berhasil melaju meninggalkan kebun.
10820.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 32.8K kali sebagai rintihan kuntilanak
Tampilkan Ulasan (334)
Baca
+Pustaka
evvimn
entah berapa ratus ribu rupiah yang saya habiskan untuk membeli koin untuk membaca buku ini... Tapi semua itu worthed, bukunya bagus banget... saya bisa nangis, tertawa, senyum senyum sendiri ketika membaca buku ini....
Maxime & Reina 🩵
Aku baca bulan september 2024. Gak sengaja baca ternyata se keren itu, semenyentuh itu, sosok wira dan sulis bner bner luar biasa. Makasih kak atas karya nya.. Semoga ngga hilang kalo mau baca lagi.. 🩵🩵............
Baca Semua Ulasan
KUNTILANAK MERAH

KUNTILANAK MERAH

Dan dunia berubah. Langit mendadak gelap total. Angin bertiup kencang. Pohon-pohon menjerit. Ayunan melambung tinggi ke udara dan anak itu... menghilang. Desi berteriak. “Dia marah! Kita gagal buat dia tertawa!” Raka memegang kepala. “Oke... plan B! Kita cari makam si kuntilanak itu!”
953 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 29 kali sebagai rintihan kuntilanak
Baca
+Pustaka
Perempuan Berkhodam Pesinden

Perempuan Berkhodam Pesinden

Penunggu berwujud kuntilanak itu cukup terganggu karena tawa sinden nyatanya mampu memecah energi gaib yang melindungi penginapan itu. "Siapa kau? Berani-beraninya berbuat gaduh di rumahku!" Teriak Kuntilanak sambil memainkan rambut-rambutnya, juluran rambut itu berupaya untuk mengikat khodam sinden. "Dedemit kelas rendahan sepertimu tak pantas bicara denganku, pergilah! selagi aku masih berwelas asih!" Balas Sulastri mengabaikan pertanyaan lawan bicara yang nampak memendam amarah.
102.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 71 kali sebagai rintihan kuntilanak
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status