Cinta Terlarang
“Aku yang bersalah. Aku menutupi identitasku, didukung oleh tanda pengenal yang masih belum berubah semenjak aku menikah dengan ibumu. Andai saja aku tak mengikuti bujukan setan saat itu, aku pasti masih bersama kalian, dan—“
“Dan hidup susah? Bukankah sudah jelas, kenapa Pak Deni lebih memilih Ibu Farida ketimbang kembali ke kampung dan merasakan susah bersama-sama?” Luna memotong perkataan Deni. Rasanya benar-benar muak, ketika harus membicarakan kembali masa lalu dimana ibunya menangis siang dan malam setiap doanya, berharap Deni kembali.
Entah berapa ribu malam Rahma mendoakan suami yang hingga kini masih lekat dalam rasa yang tak pernah pudar, rasa cinta itu ... masih sama, meski terbal
Hot Chapters