Aku Tak Mau Penebusan yang Terlambat
“Kenapa nggak undang aku masuk? Nggak tertarik ngobrol sebentar, bernostalgia?”
“Ah… iya, iya.”
Aku seperti baru sadar dari mimpi, buru-buru mempersilakannya masuk.
Ia melirik sekeliling ruangan. Rumah ini sebenarnya cukup luas, tapi benar-benar kosong melompong.
Ia tersenyum geli, setengah bercanda,
“Wah, benar-benar rumah kosong, ya?”
Aku ikut menoleh, menelusuri pandangannya. Baru sadar, sejak aku pindah ke sini, memang belum beli apa pun. Bahkan, untuk sekadar merebus air dan menjamu tamu pun aku tak sanggup.
Hot Chapters