SANG PEWARIS
Dengan suara yang lebih rendah dan tegas, ia berkata, “Pegangan yang kuat, kita gak bisa pulang dengan jalur biasa.”
Haniyah mengangguk, tak lagi bertanya. Kepercayaan mutlak mengalir di antara mesin yang menderu dan mata tajam yang tak pernah berhenti mengawasi.
Deru mesin motor Anandita beradu dengan detak jantung yang kini berpacu cepat. Jalur sempit yang mereka lewati mulai berkelok, dan motor hitam itu masih setia membayangi, tidak terlalu merapat tapi juga tidak jauh. Pemilik motor di belakang mereka pasti sadar kalau Anandita mencoba mengecoh mereka, tapi dia tidak berusaha mendahului, tetap menajaga jarak tapi tidak juga menjauh.
Bab Populer