Kala Hidup Mengalir dengan Damai
“Kalau begitu, jangan bahas masalah ini. Kayden, bukannya kamu bilang kamu mau palsukan kematianmu dan bawa aku pergi? Rencananya sudah matang?”
“Mayatnya sudah diangkut kemari. Seminggu lagi adalah hari ulang tahun Calista. Kita akan pergi pada hari itu.”
Ucapan Kayden membuat Nadia tenang dan dia pun berhenti menangis. Kemudian, dia memeluk Kayden dan berkata dengan manja bahwa dirinya ingin pergi ke sebuah kuil di Kota Arlinda supaya bisa mendoakan kelancaran rencana mereka.
Kayden melirik ke arah kamar rawat inap dengan ragu. Akan tetapi, begitu Nadia mendengus, dia langsung menyetujuinya dan membawa Nadia pergi.