KEMBALINYA SANG RATU
Lintang diminta untuk membagikan filosofi Tanah dan Langit, sebuah refleksi yang ia pelajari dari para petani, nelayan, dan tetua dari berbagai tempat—Buton, Papua, Korea, dan kini, Jepang.
Ia berdiri di depan mereka. Dalam keheningan, ia membuka dengan puisi:
"Langit bukan hanya atap
Ia adalah kitab yang tak tertulis
Tanah bukan hanya alas
Ia adalah tubuh ibu yang setia
Di antaranya, kita berdiri
Bukan untuk menaklukkan
Tapi untuk merawat"
Semua hening.