Pembalasan Sang Dokter Jenius
“Ayo, masuk.”
Joko melangkah masuk, dan kemewahan di dalamnya membuatnya semakin merasa kecil. Ruang tamunya begitu luas, dengan sofa-sofa besar berwarna krem, karpet tebal, dan langit-langit yang tinggi. Udara di dalam sini terasa lebih sejuk dan bersih, meskipun Joko masih bisa merasakan sisa-sisa aura negatif itu, seolah asap itu merembes masuk dari celah-celah jendela.
“Duduk, Jok. Duduk,” kata Pak Sanusi sambil menunjuk ke salah satu sofa paling besar.