SUAMIKU SAINGANKU
Di sampingnya berdiri Siska, tangan kanannya yang selalu menurut tanpa banyak bicara, dan Dinda, si pendiam yang tatapannya seperti ingin membunuh.
Aku mulai mengumpulkan surat-surat yang berceceran, berniat cepat-cepat pergi. Namun saat aku hendak bangkit, Siska mendorongku ke tembok dengan keras.
"Berani banget lo nyuekin kita!" bentaknya, matanya melotot.
"Maaf, saya buru-buru," gumamku, mencoba menghindari konflik.
"Oh, songong banget ya lo! Lo nggak tahu siapa gue?" Ericka mendekat, menarik daguku kasar agar mataku menatap langsung ke arahnya.
Hot Chapters