Desah Di Kamar Sebelah
Nami menoleh ke arah Mbak Rusmina yang duduk di sisi kiri ranjangku.
“Siap, Nyonya. Apa tidak apa-apa kalau kami mengganggu Nyonya?” tanya Mbak Rusmina hati-hati.
“Ah, santai saja. Aku ini kan, keluarga kalian. Jangan merasa sungkan atau tidak enak hati, ya. Pokoknya ketuk saja pintu kamarku kalau membutuhkan apa pun. Atau, kalian bisa minta tolong pada Rahima yang tidur di kamar sebelah. Kami tidak pernah keberatan untuk direpotkan,” jawab Nami dengan gayanya yang lembut, baik hati, plus tidak sombong. Perempuan yang mengenakan stelan piyama longgar berwarna merah muda dan hijab langsungan itu pun kini beringsut dari kasurku. Untunglah. Aku juga sudah muak berdekat-dekatan dengannya terus.