Petaka Mendua
tanya orang aneh itu, sembari mengelus-elus pipi Maya.
Suara itu, jelas suara lelaki. Namun dia begitu aneh, berdandan seperti badut, dan bertingkah cukup membuatku ngeri.
Maya terlihat menangis ketakutan.
"Ini pasti kamu suka," ucapnya lagi, sambil memainkan pisau kecil, di dekat pipi Maya.
"Psikopat?" batinku.
"Hahaa, kenapa kamu menangis? Padahal aku tidak melukaimu," katanya pada Maya, tawanya begitu mengerikan bagiku.
Hot Chapters