Pembalasan Sang Dokter Jenius
Bahunya yang bergetar itu bukan karena sedih, tapi karena menahan tawa.
Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Matanya merah dan berair, bukan karena air mata kesedihan, tapi karena terlalu banyak tertawa dalam diam.
Pfft… Bwahahahaha!
Tawa Joko akhirnya meledak, lepas dan tanpa beban. Ia tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya, sama sekali tidak peduli dengan dua temannya yang kini menatapnya dengan mulut ternganga dan ekspresi kebingungan total.