Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Sebening Senja

Sebening Senja

Hanya di kamar ini ia bisa menunjukkan sebenar-benar dirinya, tanpa seorang pun tahu yang ia pikirkan bahkan rasakan. Jalinan air dan bumi, semakin merapat hingga tak ada celah untuk tak membasahi setiap benda yang terusap. Hadirnya selalu mampu memaksa Senja mengingat jejak lapuk yang kusut namun sulit untuk surut. Selalu ia nikmati meski pahit, selalu nagih seperti kopi dalam gelas gelatik yang ia genggam. Bersama tegukan dari bibirnya mengalir rindu menyesap hingga ke hati. "Senja, hujan." Bibir itu bergetar menahan dingin. Ia melipat tangan di depan dada seraya mendekap jaket yang terlihat lebih besar dari ukuran badannya.
2.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 67 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
CEO Galak, Cintai Aku!

CEO Galak, Cintai Aku!

“Kamu, Angel, dan semua cewek di dunia ini nggak akan bisa mendapatkan Senja. Kalau saya tidak bisa mendapatkan Senja, maka orang lain pun tidak akan bisa mendapatkannya. Saya akan melenyapkan siapa pun yang mencoba untuk mengambil Senja dari dekapan saya, atau saya akan melenyapkan Senja sekalian agar tidak bisa dimiliki oleh siapa pun di dunia ini!” Embun tertawa. Tawa yang terdengar menakutkan. Sudah begitu, terdengar gemuruh petir di luar sana. Tanda sebentar lagi akan turun hujan. Penampilan Embun saat ini benar-benar menyeramkan, seperti seorang pesakitan yang kehilangan kewarasannya. “Mungkin sudah waktunya bagi saya untuk menyuruh Devan melakukan rencana yang saya buat khusus untuk M
109.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 299 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Tersesat Dalam Pelukan Musuh

Tersesat Dalam Pelukan Musuh

gumamnya lirih. Nama itu kini terdengar begitu sakral di telinganya. Seperti mantra yang tak henti menggema di kepala. Banyu tersenyum kecil, getir, tapi juga hangat. “Aku bodoh banget,” bisiknya. “Kenapa baru sadar sekarang?”
905 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 20 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Accidentally In Love

Accidentally In Love

Tetesan embun pagi membawa kesejukkan, membuat raga ingin menyerahkan diri semakin dalam bergelung di peraduan. Vanesha merasakan kehangatan tak biasa yang melingkupinya. Suasana yang begitu nyaman dan menyenangkan. Kicau burung serupa alarm tercipta dari alam membuat sepasang mata lentik itu untuk membuka. Bulu mata lentiknya ikut berkibar menari indah kala kelopak matanya mengerjap perlahan, menyesuaikan cahaya yang mulai merasuk ke dalam iris.
108.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 338 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Menanti Kabut dan Awan Berpaling

Menanti Kabut dan Awan Berpaling

"Kamu tahu aku, ‘kan? Jadi tentu saja kamu tahu apa hasilnya kalau kamu datang mencariku. Kamu cuma nggak mau mengakuinya." Dia berjongkok di atas lantai, bahunya bergetar dengan sangat hebat. Kepalanya perlahan-lahan merunduk, hingga dahinya hampir menyentuh lutut, suaranya membawa isak tangis yang tertahan.
1.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 57 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Terjebak Gairah Siluman

Terjebak Gairah Siluman

Jeritan. Sebuah kepala. Mata yang terbelalak menatapnya dari tanah. "Mbok…" Kata itu keluar dari bibirnya dalam bisikan serak, dan seketika itu juga, bendungan di dalam dirinya pecah. Kabut di kepalanya tersingkap oleh badai kengerian yang menyapu tanpa ampun.
5.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 137 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Teman Tapi Panas

Teman Tapi Panas

Ana tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Bibir Andi langsung menyambarnya, keduanya berciuman dengan penuh tuntutan. Kepala Andi pusing, jantungnya berdebar meski ini bukan pengalaman pertamanya. Andi tahu batas alkoholnya, dua gelas bir harusnya tidak membuat ia mabuk jadi pasti karena aroma wangi gadis inilah ia mabuk.
102.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 67 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
SUSUK TERATAI PUTIH

SUSUK TERATAI PUTIH

Semakin lama, gelembung semakin banyak, asap semakin pekat, hingga akhirnya— Psshhh! Semua isi baskom mendadak meledak menjadi uap hitam, lalu lenyap begitu saja di udara. Tidak ada bekas cairan, tidak ada kelopak bunga, bahkan tidak ada noda di baskom itu. Seolah apa yang baru saja keluar dari tubuh Seruni... tidak pernah ada. Nur terpaku. “Hilang... semuanya hilang...” suaranya lirih, penuh ketakutan sekaligus kagum.
9.750.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.2K kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Terjerat Dekapan Om Tampan

Terjerat Dekapan Om Tampan

Kesegaran terasa menembus pikirannya ketika keringat dingin di keningnya diusap, dan rasa sakit di dadanya berangsur hilang seiring tetesan demi tetesan asinya berhasil di pompa keluar. Sementara itu, Douglas, dalam kebingungan, menggenggam ponselnya—matanya melebar tak percaya saat pencarian ‘pompa asi’ di internet membawa pemahaman baru tentang apa yang dimaksud oleh Bintang. Pria bule itu, terbakar oleh kekhawatiran yang tiba-tiba, beranjak cepat mencari Bintang, diliputi rasa penasaran dan kecemasan yang menyesakkan dada.
107.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 167 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Kembang Desa

Kembang Desa

“Memangnya ayahnya Bima tidak mau kalau bundanya Bima cemburu?” Ario tergelak mendengarnya. “Mau dong. Cemburu itu kan artinya cinta, Bun.” Lasmini terkekeh mendengar sebutan baru Ario untuknya. ‘Bun’ terasa merdu terdengar di telinganya. “Sudah ya, Mas. Aku mau masuk dulu. Sudah malam. Mas juga langsung pulang. Istirahat, besok harus masuk kerja.”
1010.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 379 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
9
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status