Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Penakluk Dunia

Penakluk Dunia

Kabut embun turun di semua tempat, membasahi bunga, pohon, serta pakaian Di Tian dan Beiming Fuyi. "Huaaah ...." Beiming Fuyi dengan santai membuka matanya dan menguap. Entah mengapa dia merasa seluruh tubuhnya rileks secara tidak normal. Lebih jauh lagi, dia juga tidak merasakan beban apa pun, seolah baru berendam di mata air spiritual tingkat tinggi. ?!! Betapa terkejutnya Beiming Fuyi saat dia menoleh ke samping. Rasa malu menjalar di hatinya setelah mendapati dirinya bersandar di bahu Di Tian sepanjang malam.
9.8442.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 14.2K kali sebagai tetesan embun
Tampilkan Ulasan (181)
Baca
+Pustaka
Warna Ijo
hukum surgawi mungkin tdk jauh berkaitan dngn judul novel itu sendiri pewaris dewa penciptaan, yg berarti jika sebuah hukum surgawi itu berkaitan dengan sebuah kehancuran masal, krna sejati'a sang Pencipta pasti bkn hal yg sulit untk mlakukan kehancuran pda sbuah ciptaannya sendiri,. maaf hehehe
malapalas
BACA novel berjudul :FREL. Banyak kejutan di dalamnya. Selain tentang cinta segitiga yang bikin baper, gemes dibumbui humor dan mengharubirukan, kalian akan disuguhi dg persahabatan, keluarga, luka dan rahasia di masa lalu orangtua yang akan membuat cerita lebih seru dan menjungkirbalikkan perasaan.
Baca Semua Ulasan
Tumbal Bulan Suro

Tumbal Bulan Suro

Karin memanggil Bulek Sutini dengan begitu lirih. "Iya, Nak? Minum dulu ya?" Bulek Sutini yang sejak tadi terus berada di samping Karin mengambilkan segelas air. Dengan perlahan Karin meneguk air itu hingga tandas. "Bu, napasku sesak," ujar Karin membuat kami begitu prihatin. Dengan perut yang membesar begitu, sudah pasti ia merasakan sesak saat bernapas.
104.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 114 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
TETANGGA TAPI PANAS

TETANGGA TAPI PANAS

Aroma aspal basah yang menguap setelah hujan mendadak kalah oleh bau anyir yang pekat. Ruby berdiri dengan lutut gemetar di atas rumput taman lobi yang basah. Matanya melebar, terkunci pada sosok Dimas yang terkapar beberapa meter di depannya. Kemeja putih yang beberapa puluh menit lalu diganti Dimas di dalam mobil—kemeja yang memamerkan tato nama "RUBY" di dadanya—kini mulai ternoda oleh cairan merah kental.
1012.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 264 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Tunduklah, Tuan Iblis! Istri Bisumu Adalah Tabib Dewa

Tunduklah, Tuan Iblis! Istri Bisumu Adalah Tabib Dewa

"Kedua, Embun Getih Beku. Embun ini mengeras dari darah naga es jutaan tahun lalu, terkubur di bawah badai silet Lembah Es Layon, titik terdingin di benua ini." ​Rara memperhatikan tulisan gurunya dengan saksama. Nalar tabibnya bekerja cepat, mencoba memetakan rute perjalanan yang terdengar seperti sebuah misi bunuh diri. ​"Ketiga," lanjut Ki Hanggareksa, "Teratai Lumpur Ireng dari Telaga Getah Ireng. Air di telaga itu hitam pekat, memancarkan bau busuk bangkai dewa yang mampu menembus kewarasan dan merobek paru-paru siapa pun yang menghirupnya. Ini untuk mengikat seluruh racun di tubuhmu. Keempat, Puspa Bayu Buana dari Puncak Awang-Awang. Hutan purba yang melayang di atas awan, dengan tekan
101.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 46 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu

Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu

Bibir pucat wanita itu tampak sedikit terbuka, mengucapkan kalimat "Kamu bakal menyesal" Rasa anyir darah seketika mendesak naik ke tenggorokan Erik. Dia tidak sanggup menahannya lagi, lalu memejamkan matanya dengan penuh keputusasaan.
5.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 162 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Tiongkun Tan Choa Hok

Tiongkun Tan Choa Hok

Bunga teratai. Tiga ember. Disiram bertubi-tubi. Dari atas kepala, dari kiri, dari kanan. Guyuran yang gak kenal ampun. Rasa airnya aneh—sedikit lengket, sedikit berminyak, kayak ada yang larut di dalamnya. Air rendaman bunga teratai yang dikasih mantra yang dibakar.
202 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 5 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Takdir sang Nona Pewaris

Takdir sang Nona Pewaris

Tetesan embun di lembah odrien, lembah paling curam dan paling berbahaya, tetesan embun di sana dijuluki embun paling jernih dan suci itu memiliki harga yang sangat mahal, satu tetes sana dihargai 500 koin perak, hanya raja dan tingkat kedua yang bisa menggunakan itu. Tiba-tiba saja Linira merinding. Suran melepaskan tangan Linira. “Karena ini hari bahagia, bukankah akan lebih baik fokus bersenang-senang saja? Jangan pikirkan perasaan ku, kau pasti tahu kalau aku sangat percaya padamu.” Linira kembali tersenyum, tapi hatinya masih merasakan ada yang ganjal.
101.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 52 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Rembulan dalam Dekapan Langit

Rembulan dalam Dekapan Langit

Mustika Shalehacerita saat bulan madu
Salting abis kan sekarang? “Ah, jadi malu,” respons Langit tanpa diduga. “Ketahuan kan kalau aku bau asem sama bau matahari gara-gara belum ganti baju dari sekolah. Full keringat.” “Eh, enggak kok, Mas. I-itu ….” Bau asem gimana? Kamu keringetan tapi aromanya nagih, Mas, batin Bulan. Setelah itu, tanpa Bulan duga, Langit tiba-tiba bangkit kemudian melepas kaus panjang yang dia pakai.
784 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 17 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
LEMBUR TENGAH MALAM

LEMBUR TENGAH MALAM

Debu abu itu terhisap masuk ke dalam hidungnya. Gracya terdiam, matanya melebar. Dia terbatuk pelan, merasa sedikit sesak, tetapi yang lebih membuatnya tidak nyaman adalah perasaan aneh yang tiba-tiba datang. Sebuah rasa dingin merayap di kulitnya, seperti ada sesuatu yang mulai berubah di dalam dirinya. "Hadeh… cu-cuma debu. Tidak perlu panik," katanya pelan, mencoba menenangkan diri. "Ini semua cuma kebetulan."
1.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 29 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
SANG MENANTU TERBUANG

SANG MENANTU TERBUANG

Tatapan yang bukan lagi berisi cinta yang buta, tetapi kekecewaan yang telah mengeras menjadi es. ​Di tengah tatapan dingin itu, sebuah bayangan aneh melintas di benak Arya. ​Bukan bayangan Kinanti, bukan juga wajah Bramantya yang sinis. Tapi, bayangan yang kabur...sebuah aula besar yang gelap, suara tembakan yang memekakkan telinga, dan bau amis darah yang menyengat. Secepat kilat, bayangan itu lenyap, meninggalkan sakit kepala berdenyut dan sensasi aneh di telapak tangannya, seolah ia baru saja memegang senjata berat.
10723 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 20 kali sebagai tetesan embun
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
456789
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status