Sang Pewaris Arogan
Yang ada hanya sosok hancur dengan mata merah kosong, tubuh berkeringat, tangan gemetar, mulut ternganga seperti binatang liar.
Orang itu menunduk sebentar, menatap hasil jepretannya. Bibirnya melengkung tipis, senyum yang samar, sulit ditebak artinya. Antara puas, sinis, atau sekadar dingin.
Klik terakhir ia ambil, lalu segera mematikan kamera. Tanpa suara, ia mundur perlahan, membuka pintu kecil di sisi lain ruangan, lalu lenyap ditelan kegelapan bar.
Hot Chapters