HASRAT CINTA PERTAMA
“Kalian pasti sangat cocok sebagai pasangan, Wil.”
“Duh … stop deh, Ma. Gak usah repot-repot cariin aku istri lagi, aku gak minat samasekali, percuma,” tukas Willy sembari menghempaskan punggungnya di sofa empuk itu. Dua tangannya tanpa sadar mengelus lututnya yang serasa pegal sekali. Eh, kok bisa? Ya, iyalah. Bercinta dengan berbagai macam gaya dengan Vinda sejak malam dan dilanjut lagi usai sarapan pagi tadi, bagaimana lututnya gak menjadi goyah tak bertenaga begitu jadinya.
Hot Chapters