Istri Yang Kau Ceraikan
Akan kuberi perhatian lebih, dimulai dari segala persiapannya kerja, lanjut sarapan.
Tepat saat azan berkumandang, aku menyerahkan sisa pekerjaan pada ART dan bergegas ke kamar Akbar. Pelan aku membuka pintu kamar anakku itu. Sesuai rencana, Mas Radit masih berbalut selimut. Aku mendekati ranjang lalu duduk di sisi suamiku tertidur.
Pelan, kukecup keningnya sambil berbisik.
"Bangun, Mas. Sudah subuh."