Rimba Memburu Senala
Angin membawa bau debu, lilin yang telah padam, dan sisa harapan yang belum dibakar oleh ketakutan.
Di ruang meditasi yang sama, Yu Lie duduk bersila, tangannya mengusap lembar terakhir jurnal yang sudah hampir penuh. Tak ada kemewahan di sana—hanya tinta, kertas, dan suara langkah kenangan yang dia tuliskan dengan penuh beban dan cinta.
“Tiga tahun sejak sidang itu,” gumamnya pelan.
Lang Fei berdiri di ambang pintu, wajahnya lebih tua, lebih tenang, tapi sorot matanya tetap menyala seperti pelita dalam lorong kelam.
Chapitres populaires