Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!
Suasana benar-benar mencekam, hanya terdengar isak tangis tertahan dan suara gesekan kain goni yang dikenakan para pelayan.
Di tengah aula duka, Li Lian bersimpuh dengan anggun namun penuh duka. Ia mengenakan jubah sutra putih polos tanpa hiasan apa pun. Di tangannya, ia memutar butiran tasbih kayu cendana dengan ritme yang lambat, sementara di pangkuannya terbuka sebuah Kitab Doa Penenang Arwah.
Bibir Li Lian bergerak pelan merapal bait-bait doa, namun air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. Isakannya tulus, menyesakkan dada bagi siapa pun yang mendengarnya.