Two Side
Kini angin pagi ‘tak lagi mempan terhadap kedua insan yang tengah menciptakan dunia sendiri, saling bermesraan hingga membuat semesta menjadi iri.
Kedua netra kembali terbuka ketika lidah saling menjauh dan memperlihatkan saliva yang enggan berpisah. Wajahnya memerah ketika sadar tentang apa yang telah dilakukannya, sedangkan kamu hanya tersenyum seraya menatapnya. Entah karena malu atau hal lain, dia memalingkan muka hingga membuat keheningan kembali menyapa. Sebuah bahasa dari tubuh seorang wanita yang sulit dipahami, membuatmu bingung harus bagaimana mematahkan keheningan itu. Namun, secara tiba-tiba kamu langsung memeluknya dan kembali menyatukan bibir dan saliva.