INICIAR SESIÓNในโลกที่เต็มไปด้วยเงามืดและการฆ่าฟันของเหล่าผู้ที่ทำงานใต้ดิน เธอคือนักฆ่าที่ไม่เคยพลาด เปรียบเสมือนเงาที่ไม่เคยหลบหนีจากการตามล่า ภารกิจใดก็ไม่สามารถหยุดยั้งความเด็ดขาดของเธอได้ แต่เมื่อเวลาผ่านไปจนถึงภารกิจสุดท้าย ภารกิจที่เคยคิดว่าไม่สามารถพลาดได้ กลับกลายเป็นความผิดพลาดที่ไม่มีทางแก้ไขได้ จากนั้น ซีโร่ก็พบว่าตัวเองไม่ใช่แค่ผู้หญิงที่ไร้ความหมายในยุคสมัยแห่งความมืดมิดเท่านั้น แต่เธอกลับตื่นขึ้นในร่างของหญิงสาวที่ไร้ค่า ท่ามกลางความยากจนและความทรมานในชีวิตที่คล้ายคลึงกับแม่ของเธอหญิงสาวที่เคยถูกทอดทิ้งและถูกใช้เป็นเครื่องมือสนองความต้องการของผู้อื่น แต่ในโลกนี้ ซีโร่ไม่เคยพ่ายแพ้ เธอไม่ได้แค่ฝึกฝนวิชาการลอบสังหารที่ไม่มีใครเทียบได้เท่านั้น แต่ยังมีทักษะการใช้สมุนไพรและพืชผักที่ไม่เหมือนใคร เมื่อชีวิตถูกบีบบังคับให้ต้องเริ่มใหม่ เธอเลือกที่จะใช้ชีวิตอย่างเงียบสงบในสวนผัก เล็ก ๆ ซึ่งเต็มไปด้วยสมุนไพรและยาพิษร้ายที่สามารถทำลายชีวิตของผู้ที่กล้าเข้ามาทำร้ายเธอและแม่ของเธอได้ ในโลกที่ความตายคือลมหายใจที่เธอเคยสูดเข้าออก ซีโร่จะต้องเลือกระหว่างการอยู่ในเงามืดที่เธอเคยเชี่ยวชาญ หรือการสร้างชีวิตใหม่ที่เต็มไปด้วยการแก้แค้น
Ver más"Mas ..." Suara Hana lirih terdengar di jam dua belas tengah malam.
Hana memegangi perutnya yang mulas. Saat ini usia kandungan Hana sudah cukup bulan. Adam yang saat itu baru hendak tidur, hanya bisa menghibur istrinya.
"Mas, sakit! Aku gak kuat, Mas! Ayo kita ke bidan yang dekat dari sini saja," ucap Hana sembari terus meringis kesakitan.
"Kamu tunggu di rumah aja dulu. Biar Mas ke sana dulu dan lihat ada enggaknya ibu bidannya, ya."
Hana mengangguk karena sungguh rasa sakit itu kini semakin sering dia rasakan. Sehingga untuk membuka mulut pun tidak sanggup.
Adam mengeluarkan motor dari rumah yang sudah mereka tempati kurang lebih satu tahun itu. Walaupun kecil, tapi rumah itu sudah rumah sendiri dan hanya ditinggali oleh mereka berdua.
Tak sampai lima menit, Adam kembali lagi ke rumah. "Gak ada orangnya. Kamu sabar aja, nanti kalau sudah pagi, kita ke sana," ucap Adam dengan entengnya.
"Mas ... Aku mau minum." Hana merasakan haus yang teramat seperti orang yang habis berlari maraton.
Dengan lemah, Hana meminta air kepada suaminya. Adam dengan sigap langsung mengambilkan air minum, walaupun dia sudah sangat mengantuk karena baru selesai menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.
Kontraksi yang Hana rasakan semakin menjadi-jadi. Setiap lima menit sekali, rasa sakit itu datang lagi.
"Mas ... Aku gak kuat! Antar aku ke bidan sekarang, Mas!" rengek Hana kepada Adam yang tertidur di sampingnya.
Jarum jam sudah berada di angka empat pagi. Dan sepanjang malam itu, Hana merasakan kontraksi seorang diri karena suaminya tertidur. Hana tak ingin membangunkan suaminya karena tahu kalau Adam juga capek.
Tapi saat menjelang subuh, rasa sakitnya sudah tidak tertahankan dan terpaksa Hana membangunkan Adam, suaminya.
Kali ini Adam menuruti permintaan Hana karena tak tega juga melihat istrinya kesakitan. Hanya membawa buku KMS dan sebuah dompet, berangkatlah mereka berdua ke bidan yang hanya berjarak satu gang dari rumahnya yang sekarang.
Saat sampai di sana, terlihat satu perempuan berjilbab tengah menyapu tempat yang biasa digunakan oleh bidan praktek. Melihat kedatangan Adam dan Hana, perempuan itu mempersilahkan keduanya untuk masuk.
"Keluhannya apa, Bu?" tanya perempuan yang bisa dipastikan perawat di klinik bidan itu.
"Perut saya mulas dan sakit sejak tadi, Mbak. Aduh ... sakit!" Saat menjawab pertanyaan perawat, Hana merasakan kontraksi lagi.
"Baik, Bu. Silahkan berbaring di sana, ya, biar saya periksa terlebih dahulu."
Dituntun oleh Adam, Hana berjalan menuju kasur. Perlahan, dia berbaring di sana. Perawat yang Hana tidak tahu namanya itu lalu menyuruh Hana untuk mengangkat kedua kakinya.
"Ini sudah pembukaan delapan, Ibu!" seru perawat itu.
"Apa?" Hana sedikit terkejut karena sebelumnya tidak menyangka akan melahirkan hari itu.
Dua hari yang lalu, Hana baru saja periksa di dokter tempat biasa dia periksa. Dan dokter juga menyarankan untuk tidak dilahirkan dalam waktu dekat. Manusia hanya bisa memprediksi, tapi Allah-lah yang menentukan semuanya.
Sejak awal kehamilan, Adam dan Hana sepakat untuk tidak ingin tahu jenis kelamin anak mereka. Biarkan itu menjadi kejutan di hari kelahiran anaknya nanti.
"Nanti kalau sakitnya datang lagi, coba ambil nafas yang dalam, ya, Ibu. Dan jangan mengejan kalau belum pembukaan sepuluh karena nanti bisa berakibat robeknya jalan lahir," terang perawat berkacamata itu. Hana hanya mengangguk saja karena banyak teman-temannya yang juga menyarankan hal seperti itu, jadi Hana sudah tahu.
Adam saat itu pulang kembali untuk mengambil baju yang sudah disiapkan di tas sejak jauh-jauh hari. Karena jaraknya dekat, Adam tidak begitu khawatir meninggalkan Hana sebentar.
Selang sepuluh menit kemudian, Hana berteriak. "Mbak, aku gak kuat, Mbak! Gimana ini? Kok aku pengen ngeden, ya?" rintihnya.
"Sabar, Bu, jangan dulu! Tarik nafas dan buang secara perlahan, Ibu."
Hana mengikuti arahan dari perawat itu walaupun sebenarnya sangat sulit. Adam masih senantiasa mendampinginya di ruangan itu.
Perawat perempuan tadi segera memanggil bidan dan menyiapkan persiapan untuk persalinan. Dua kali Hana mengejan, dia hampir menyerah.
"Lagi, Bu! Kepala adiknya sudah keluar," seru Ibu bidan.
"Ayo, Sayang! Anak kita sudah kelihatan kepalanya. Semangat, Sayang!" Adam meremas kencang tangan Hana dan juga mengelus rambut Hana sebagai penyemangat untuk istrinya itu.
"Owek! Owek! Owek!" Tangis suara bayi terdengar memenuhi ruang bersalin yang ukurannya tidak terlalu besar itu.
"Alhamdulillah, Ya Allah," batin Hana lega.
"Alhamdulillah ... terima kasih, Sayang!" Cup! Sebuah ciuman di kening diberikan oleh Adam untuk Hana.
"Anak kita cantik sepertimu," sambung Adam lagi.
"Anak kita perempuan, Mas?" tanya Hana yang dijawab anggukan oleh Adam.
"Alhamdulillah. Tapi —"
"Sstttt! Gak usah membahas hal yang bisa membuat kebahagiaan kita rusak, ya, Sayang." Adam memotong perkataan Hana. Hana pun mengangguk pelan sambil menahan air matanya.
Adam dipanggil oleh bidan untuk mengadzani anaknya yang baru lahir. Sementara Hana, dia tengah dilakukan tindakan mengeluarkan ari-ari dalam perutnya.
Setelah ari-ari dalam perutnya keluar, Hana langsung dijahit jalan lahirnya. Beruntung tidak ada robekan yang lebar pada Hana, jadi dia cukup dijahit dua saja.
"Ini, Bu, bayinya! Silahkan disusui, ya," ujar perawat sambil membawa bayi perempuan mungil itu pada Hana.
Perawat dan bidan membantu Hana saat baru pertama kali menyusui. ASI Hana saat itu belum keluar, tapi dia tidak berkecil hati karena support suami, bidan dan perawat di sana sangatlah baik.
"Mas mau telepon Ayah dan Ibu dulu, ya, Sayang. Kamu di sini dulu," kata Adam.
"Iya, Mas."
Adam keluar dari ruangan yang digunakan Hana setelah persalinan. Dia menekan nomer ibunya.
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Waalaikumsalam, Dam. Ada apa, Dam?" tanya Ibu Laila.
"Alhamdulillah Hana sudah melahirkan, Bu. Anak kami sehat dan Hana juga sehat," sahut Adam dengan nada yang gembira.
"Alhamdulillah, Ya Allah! Yah ... Ayah ... Hana sudah melahirkan, Yah!" teriak Ibu Laila memberitahukan berita baik itu pada Ayah Adam yang bernama Guntur.
Ibu Laila tentu saja sangat antusias dan gembira menyambut kelahiran cucu yang sudah dinantikannya. Pasalnya, Adam adalah anak tunggal.
"Apa, sih, Bu, teriak-teriak?!" cebik Pak Guntur dari dalam kamar.
"Hana sudah melahirkan, Yah. Keduanya sehat semua," jawab Ibu Hana yang bisa jelas terdengar oleh Adam.
"Pak! Pak! Istri Anda pendarahan hebat. Ayo kita bawa ke rumah sakit!" seru perawat yang lari keluar menyusul Adam.
Adam yang saat itu masih menelepon kelihatan panik.
"Ada apa, Dam?" tanya Ibu Laila yang juga mendengar teriakan dari perawat itu.
"Dam! Adam ... Kamu dengar Ibu, kan, Nak?"
Ibu Laila tidak tahu jika saat itu Adam lari membopong Hana masuk ke dalam mobil pribadi bidan untuk segera dibawa ke rumah sakit.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
หลังจากที่สะสางทุกเรื่องราวในเมืองหลวงจนเสร็จสิ้น เยี่ยจิงหลินก็ตัดสินใจเดินทางกลับไปยังหมู่บ้านไท่ผิงชุน ที่นั่น… คือสถานที่ที่มีความหมายกับนางมากที่สุดเมื่อมาถึงหมู่บ้านแห่งนี้ บรรยากาศรอบตัวแตกต่างจากเมืองหลวงโดยสิ้นเชิงไม่มีเสียงของขุนนางที่คอยแย่งชิงอำนาจ ไม่มีแววตาแห่งความโลภ ไม่มีเสียงกระซิบของคนที่พยายามคิดคดหักหลังที่นี่มีเพียงสายลมอ่อนๆ อากาศที่สดชื่น และผู้คนที่ใช้ชีวิตอย่างเรียบง่ายแม้ว่าหมู่บ้านแห่งนี้จะ แห้งแล้งและทุรกันดารแต่สำหรับเยี่ยจิงหลินที่นี่คือบ้าน เมื่อเดินเข้าสู่เรือนของตนเอง นางกลับต้องแปลกใจเมื่อพบว่า หลิวฉางหยาง กำลังพักอาศัยอยู่ที่นี่! เยี่ยจิงหลินหันไปมองมารดาของตนซูหลินด้วยความสงสัยก่อนที่แม่ของนางจะ เผยรอยยิ้มออกมาอย่างเขินอาย"ลูก… แม่ตัดสินใจแล้วว่าแม่จะเริ่มต้นชีวิตใหม่อีกครั้ง" หลิวฉางหยางไม่ใช่แค่คนรู้จัก แต่เขาเป็นคนที่ ยืนเคียงข้างและคอยดูแลแม่ของนางเสมอมาในวันที่ชีวิตของซูหลินลำบากเขาอยู่เคียงข้างนางโดยไม่ทอดทิ้งและตอนนี้แม่ของเยี่ยจิงหลินก็ได้ตัดสินใจเปิดใจให้กับความรักอีกครั้งเยี่ยจิงหลินเมื่อเห็นแม่ของตนมีความสุข นางย่อมดีใจอย่างที่สุด"แ
เวลาผ่านไปหนึ่งเดือนเต็ม...ด้วย ฝีมือการรักษาของหมอเทวดาหลานซือหมิง ในที่สุด ฮ่องเต้ฟู่ซื่อเทียนก็ฟื้นคืนสติอีกครั้ง!แม้ว่าพระองค์ยังต้องใช้เวลาอีกมากกว่าจะกลับมาแข็งแรงเต็มที่ แต่สิ่งที่พระองค์ได้รับรู้หลังจากฟื้นคืนสติมันทำให้หัวใจของพระองค์สั่นสะท้านยิ่งกว่าพิษร้ายที่เคยกัดกินร่างกายเสียอีก!"คนที่วางยาข้า... คือน้องชายของข้าเอง!?" ฮ่องเต้ฟู่ซื่อเทียนตื่นตระหนกเมื่อรับรู้ถึงความจริง อ๋องฟู่หยางเซิน ผู้ที่เขาเคยมอบความไว้วางใจ... กลับเป็นผู้ที่คิดจะฆ่าเขาเอง!สิ่งที่ทำให้พระองค์สะท้านใจไปมากกว่านั้นคือ..."ผู้ที่ช่วยข้ากลับเป็นบุตรสาวของแม่ทัพซุนเทา... บิดาของนางคือผู้ที่ข้าเคยหวาดระแวงเพราะคำยุยงของราชครูกู่เทียนหลง!" พระองค์หวาดระแวงแม่ทัพซุนเทาเพราะคำพูดของราชครูที่คอยปั่นหัวสุดท้าย... พระองค์ก็ต้องสูญเสียทั้งคู่ไปหลังจากนั้นไม่นานความเดือดดาลก็ปะทุขึ้น!"ข้าจะไม่มีวันให้อภัยมัน!" ดวงตาของฮ่องเต้ฟู่ซื่อเทียน ฉายแววของความโกรธแค้นแม้ว่าอ๋องฟู่หยางเซินจะไม่เหลือเรี่ยวแรงใดๆ แล้ว แม้ว่าเขาจะอยู่ในสภาพของคนที่ไร้สติ เหม่อลอย ไม่รู้เรื่องราวใดๆแต่ความผิดที่เขาก่อขึ้นมันเกินกว่าที
การตายขององค์ชายฟู่ซิวเหิง… เป็นเพียงจุดเริ่มต้นเท่านั้น เยี่ยจิงหลินไม่ได้คิดจะหยุดเพียงแค่ปลิดชีพองค์ชาย แต่นางกำลังจะทำให้ตระกูลของอ๋องฟู่หยางเซินล่มสลายไปทั้งสายเลือด! ก่อนที่นางจะลงมือ เยี่ยจิงหลินส่งคนของนางออกไปสืบข่าวเกี่ยวกับบุตรชายของอ๋องฟู่หยางเซินทุกคนพวกมันทุกคนล้วนชั่วช้า ไม่ได้ต่างไปจากฟู่ซิวเหิงเลยแม้แต่น้อยพวกมันฉ้อโกง ฉุดคร่าหญิงสาว กดขี่ชาวบ้าน ใช้อำนาจอย่างอำมหิต...ทุกสิ่งที่ได้รับรายงานมามีแต่สิ่งที่ทำให้นางยิ่งแน่ใจว่าพวกมันสมควรจะถูกกำจัดจนหมด!เมื่อแผนการถูกวางไว้อย่างรัดกุม ค่ำคืนนี้ก็ไม่ต่างอะไรไปจาก คืนแห่งนรกที่แท้จริงสำหรับท่านอ๋องแม้ว่าตัวของเขานั้นไม่มีสติเป็นของตัวเองแล้วก็ตาม"ลอบสังหารพร้อมกันในคืนเดียว อย่าให้เหลือแม้แต่คนเดียว"นางออกคำสั่งอย่างเด็ดขาด! เหล่ามือสังหารในเงามืด เคลื่อนไหวอย่างไร้เสียง แต่ละคนได้รับเป้าหมายของตนเอง ไม่มีความผิดพลาด ไม่มีความลังเล มีเพียงจุดจบของเครือญาติแห่งอ๋องฟู่หยางเซินเท่านั้นที่รออยู่!เสียงกรีดร้องแห่งความตื่นตระหนก ดังขึ้นจากคฤหาสน์หลายแห่งของบุตรชายท่านอ๋อง"ไม่นะ! ปล่อยข้าไป! ข้าให้เงินเจ้าได้!""อย่า! ข้ายอมแ
เยี่ยจิงหลินยืนอยู่กลางโถงสุราที่ถูกย้อมไปด้วยเลือด นางจ้องมองภาพตรงหน้าอย่างพึงพอใจ ฟู่ซิวเหิง องค์ชายผู้เคยหยิ่งทะนงบัดนี้กำลังสั่นสะท้านไม่ต่างจากลูกนกที่ถูกขังไว้ในกรงแห่งความตาย!นางกวาดสายตามองเหล่าขุนนางและองครักษ์ที่เหลือรอด บางคนยังยืนตัวแข็งทื่อด้วยความหวาดกลัว บางคนคุกเข่าลงร้องขอชีวิต น้ำตานองหน้า แต่มันไร้ประโยชน์!ใบหน้าของเยี่ยจิงหลินยังคงเรียบนิ่ง… ก่อนที่ริมฝีปากของนางจะคลี่ยิ้มบางๆ ออกมา"จงดับลมหายใจของพวกมันให้หมดซะ... อย่าให้รอดไปได้แม้แต่คนเดียว"คำสั่งของนางเยือกเย็นราวกับเป็นเสียงแห่งมัจจุราช เงามรณะเคลื่อนไหวทันที!เสียงดาบกระทบกับเนื้อ เสียงเลือดสาดกระเซ็น เสียงกรีดร้องดังขึ้นเป็นระลอก ก่อนที่ทุกอย่างจะค่อยๆ เงียบลงไปทีละน้อย ฟู่ซิวเหิงจ้องมองภาพตรงหน้าด้วยสายตาที่สั่นไหว เขาเห็นขุนนางที่เคยประจบสอพลอตนเองถูกเชือดไปทีละคน…เขาเห็นองครักษ์ของตนเองล้มลงโดยไม่มีโอกาสแม้แต่จะชักดาบขึ้นมาต่อสู้!"ไม่… ไม่…"ร่างของเขาสั่นสะท้านไปทั้งตัว สิ่งที่เขาเคยภาคภูมิใจ อำนาจ ความเย่อหยิ่ง ความทะเยอทะยานล้วนมลายหายไปจนหมดสิ้นและเมื่อความหวาดกลัวพุ่งถึงขีดสุด…"ท่านพ่อ! ช่วยข
ภายใน หอสุรา ที่เคยเต็มไปด้วยเสียงหัวเราะและบรรยากาศแห่งการเฉลิมฉลอง พลันเกิดความเปลี่ยนแปลงในพริบตาเดียว!ฟู่ซิวเหิง และเหล่าขุนนางยังคงกำลังดื่มด่ำกับความสุขจากอำนาจใหม่ของตนเอง เสียงจอกสุรากระทบกัน เสียงหัวเราะยังคงดังไปทั่วทั้งห้องโถง ทุกคนกำลังหลงระเริงอยู่ใน ภาพมายาของชัยชนะแต่แล้ว…"พรึ่บ!"เ
ความจริงที่โหดร้ายกำลังกลืนกินหัวใจของท่านอ๋องฟู่หยางเซินอย่างช้าๆบุตรชายที่เขารักและไว้วางใจที่สุดกลับกลายเป็นผู้ที่กำลังผลักไสเขาไปสู่ความตาย!ร่างกายของท่านอ๋องที่อ่อนแรงอยู่แล้ว กลับยิ่งทรุดหนักลงกว่าเดิม ด้วยความรู้สึกที่ไม่อยากยอมรับความจริง ความรู้สึกเจ็บปวดและความสิ้นหวังได้กัดกินจิตใจของเขา
หรือในบางที… นี่อาจเป็นชะตากรรมที่ฟ้ากำหนดไว้แล้ว อ๋องฟู่หยางเซิน ที่เคยเจ้าเล่ห์และแยบยล กำลังเผชิญกับสิ่งที่เขาเคยมอบให้ผู้อื่น… การทรยศจากคนใกล้ตัว!ย้อนกลับไปเมื่อหลายเดือนก่อน ท่านอ๋องฟู่หยางเซิน คือบุรุษผู้ทะเยอทะยานเกินใคร แม้แต่ความสัมพันธ์ทางสายเลือดก็ไม่สามารถขวางกั้นความปรารถนาอันแรงกล้า
เมื่อองค์ชายฟู่ซิวเหิงได้รับสิ่งที่ต้องการแล้ว เขาก็รีบเดินจากไปทันที ฝีเท้าของเขาหนักแน่น แต่ขณะเดียวกัน มันก็เต็มไปด้วย เงาของความอาฆาต ที่ไม่สามารถปกปิดได้ทางด้าน ลูกน้องของเยี่ยจิงหลิน ยืนมองตามแผ่นหลังขององค์ชายที่เดินห่างออกไป สีหน้าของพวกเขาเต็มไปด้วยความไม่สบายใจ ก่อนที่หนึ่งในนั้นจะพูดขึ้












reseñas