Suamiku Bukan yang Kukira
Tapi kalimat berikutnya membuat tawa itu membeku:
“Lemari dibuka dengan menulis kalimat pembuka yang sama tiga kali, dipisah dengan satu spasi kosong di antaranya, lalu disusul satu kalimat yang berhenti di Tengah, dan tidak kau lanjutkan.”
Kalimat pembuka? Kalimat apa? Aku menatap kembali esai lamaku. Kalimat pertamanya: “Hujan tidak pernah benar-benar turun pada waktu yang kita minta.” Aku menyalin kalimat itu ke dokumen kosong. Kutulis tiga kali, memisah tiapnya dengan satu baris kosong. Lalu “satu kalimat yang berhenti di tengah”. Aku mengetik: “Kalau aku menunggu di ujung gang, mungkin kamu akan” dan berhenti. Kutahan jariku. Tidak ada yang terjadi. Hanya kursor berkedip-kedip, seperti
Hot Chapters