Terjerat Takdir Tuan Saka
"Dia pasti sangat suka, sangat sayang, sampai berani pegang-pegang kamu seolah punya hak?"
Saka mendengus pelan. Ia menurunkan pandangan dan berusaha mengingat sesuatu, sebelum akhirnya kembali menatap Arum. "Jadi... dia laki-laki yang kamu sukai, kan?"
Arum menahan napas, jantungnya berdebar kencang. Dan dari diamnya, Saka sudah mengetahui jawabannya.
"Yang saya tahu," Saka berbalik menatap jendela, suaranya melembut walau tetap berat, "saya ga suka ada orang lain yang bersikap semudah itu ke kamu. Bahkan adik saya sendiri."