Ibu Susu Anak Keponakanku
“Nak, kebahagiaan orang tua bukan diukur dari kesempurnaan anak. Kamu masih bernapas, itu sudah cukup membuat kami bahagia. Apa kamu kira kami ingin yang lain? Tidak. Kami hanya ingin melihatmu bisa berdiri lagi, tersenyum lagi.”
“Dan jangan pernah menyalahkan dirimu,” sambung ibunya, air mata masih berlinang. “Kehilangan itu berat, kami tahu. Tapi kamu bukan penyebabnya. Hidup memang kejam kadang-kadang, Nak. Tapi jangan korbankan kehidupanmu juga.”
Rindu terdiam, hatinya bergetar. Ia merasa kecil di hadapan mereka—kedua orang yang meski tubuhnya sudah renta, masih berusaha melindungi dirinya dengan sisa tenaga.
Hot Chapters