JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU
Persis seperti yang sering dilakukan Rere, saat aku lari mencari bantuan dan meninggalkan Rere, Rere malah membenturkan kepalanya ke dinding sampai hidungnya meneteskan darah.
Dengan rasa takut teramat aku mencoba bergerak dan membuat Eyang tersadar. Kursi yang ikut bergoyang mengikuti arah tubuh Eyang membuat otot lenganku menegang, kuat sekali Eyang bertahan di posisinya, kepalanya mulai menunduk dan mendekati runcing sudut meja.
“Yang, istighfar!”