Aku sering mikir soal ini sambil nonton dan ngulang adegan-adegan yang nempel di kepala, karena pakai bahasa Inggris di tengah dialog Jepang itu selalu bikin telinga waspada dan suasana berubah. Seringnya, kata-kata seperti "not okay" dipakai bukan cuma karena pembuat mau karakter terdengar "keren", tapi juga sebagai alat naratif: bahasa Inggris bikin jeda emosional, memberi penekanan yang nggak gampang dicapai lewat bahasa Jepang biasa. Aku suka memperhatikan bagaimana intonasi pengisi suara tiba-tiba naik atau turun saat mereka beralih ke kata Inggris—itu sengaja, supaya penonton merasakan jarak atau alienasi, atau malah memaksimalkan momen sarkasme.
Ada juga faktor teknis dan budaya. Banyak penulis menganggap pengucapan bahasa Inggris di anime memberi nuansa modern atau internasional, dan kadang itu bagian dari karakterisasi—misalnya tokoh yang sering pakai kata Inggris cenderung digambarkan lebih "global" atau dikaitkan dengan musik, teknologi, atau gaya hidup tertentu. Terus, dari sisi subtitel dan dubbing, penerjemah sering harus memilih: terjemahkan literal, sesuaikan rasa, atau biarkan bahasa Inggris mentah-mentah. Pilihan itu mengubah persepsi kita; aku pernah nonton adegan yang di sub berbeda terasa lebih dingin atau lebih lucu karena beda terjemahan. Intinya, penggunaan "not okay" itu multilapis: estetika, dramatis, dan kadang pragmatis. Aku selalu senang kalau bisa bongkar alasan kecil kayak gini karena bikin nonton terasa makin berwarna dan penuh detail.