Tukang Pijat Tampan
Dengan jari-jari yang bergerak ragu-ragu di atas keyboard virtual, akhirnya Adit mengetik balasan.
[Kak, jangan aneh-aneh deh. Aku takut ketahuan…]
Hampir seketika, balasan Dinda muncul. Sepertinya ia memang sedang menunggu.
[Tapi kamu kangen aku nggak?]
Adit menarik napas panjang. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap pertanyaan itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia tak enak kalau membuat Dinda tersinggung atau kecewa. Namun di sisi lain, sejujurnya ia biasa saja. Tidak kangen. Bagaimana mau kangen? Ia tak pernah kekurangan perhatian dari wanita. Selalu saja ada yang mendekat, yang menggoda, yang mengajaknya untuk hal-hal seperti ini.