BALASAN PAHIT UNTUK MERTUA
“Iya, nggak apa-apa, Mas. Sabar, ya. Bebanmu pasti berat banget sekarang. Kasihan ibumu. Beliau orang baik, lho. Aku ingat banget waktu ke rumah kalian. Beliau yang menghidangkan nasi dan sayuran ke meja. Beliau juga yang mengambilkanku air minum. The best, deh! Nggak salah kalau anak laki-lakinya alim kaya kamu, Mas.”
Pipiku rasanya bersemu merah sebab dipuji oleh Adiba. Alhamdulillah, ternyata trikku manjur juga. Syukurlah.
“Alim? Subhanallah. Alim dari mananya sih, Dib? Aku ini manusia fakir ilmu. Imanku juga kaya grafik yang terkadang turun dan naik. Aku ini laki-laki banyak kurangnya. Wajar kalau istriku masih membangkang.”
Hot Chapters