Suara Desahan di Kamar Anakku
Aku mendengus kesal.
"Huh, Mia. Memang kebiasaan kamu dari dulu begitu kan. Telat mikir!" sindir Siska yang memang ada benarnya.
"Aku tak akan menyia-nyiakan jika nanti ada kesempatan bertemu wanita tadi," ucapku.
"Ya, semoga saja tidak telat mikir lagi," sindir Siska lagi.
"Oh iya, Sis. Maafkan aku kalau di saat hari pernikahanmu tiba, aku belum sempat membeli kado. Aku baru mendapatkan pekerjaan dan balum memiliki uang," ucapku lagi dengan perasaan bersalah.