Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Biduk Cinta Senja

Biduk Cinta Senja

"Oh, begitu. Aku ...." "Sebentar ya, Do. Ponsel aku bunyi," ucap Senja menyela kalimat Aldo. Senja berdiri dan sedikit menjauh dari pria berkaca mata itu. Kemudian menekan tombol hijau di sudut kanan bawah ponselnya. "Halo. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam. Kau jangan macam-macam, Senja." "Macam-macam apa? Saya sedang belajar."
103.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 116 kali sebagai dikala senja
Baca
+Pustaka
Mahar Kedua

Mahar Kedua

Angina sepoi serasa menambah kenikmatan saat mengamati detik-detik pergantian sore ke malam hari. “Apakah ini menjadi senja terakhir kita?” Naina membuka suara. Lirih sekali. “Kita akan melewati senja di hari-hari berikutnya, Ina.” “Tapi senja di hari berikutnya kita tak lagi berdua,” ucapnya dengan suara parau.
3.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 85 kali sebagai dikala senja
Baca
+Pustaka
Jodoh untuk Senja

Jodoh untuk Senja

Dia berpikir apa mungkin bersama Bima Senja akan merasa bahagia jika dia tetap berdekatan dengan Langit cinta pertamanya. Lima belas menit kemudian Nilam terlihat mendekati Senja yang masih duduk menunduk di ruang tamu. “Senja, maaf tante bikin kamu nunggu lama ya,” ujar Nilam sambil berjalan mendekat, perempuan paruh baya itu masih terlihat cantik di mata Senja. “Enggak kok tante,” kata Senja sambil tersenyum, “Tante kenapa panggil Senja kesini?,” tanyanya sopan.
1.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 60 kali sebagai dikala senja
Baca
+Pustaka
Istri Galaknya Om CEO

Istri Galaknya Om CEO

(Ciara) "Kenapa tidak bisa? Sayangku, senja sekedar memberi canda candu, tapi aku bisa memberimu nada madu. Lebih manis, bukan?" (Haidar) "Warna senja memang menyiratkan betapa indahnya dirimu." (Ciara) "Apakah tampanku akan hilang tatkala senja itu mengerang?" (Haidar) "Tampanmu hanya akan memudar, tatkala kamu tak bisa membedakan mana senja, mana mentari." (Ciara)
105.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 202 kali sebagai dikala senja
Tampilkan Ulasan (45)
Baca
+Pustaka
Laras_7779
Nurilhuda, Syamsiddhuha, Badridduja, kembar tiganya Abi Ibu yang pengen aku bawa pulang. Kakak Uda pinter bikin salting, Abang Uha vibesnya bawa ketenangan, Adik Uja si paling nggemesin sedunia. Lengkap deh kalian ini
Arsyi An
Cinta banget baca novelnya Kak Azizah. Dewasanya Haidar menggemaskan, ia menasihati, tapi juga intropeksi. Part favoritku: Wanita itu rumah untuk lelakinya. Rumah akan rapi jika yang punya peduli, rumah akan nyaman jika yang punya beriman, rumah akan terang jika yang punya tak lupa kasih sayang
Baca Semua Ulasan
Rahasia Dibalik Kepergian Istriku

Rahasia Dibalik Kepergian Istriku

Itu bukan reaksi yang ia harapkan atau bayangkan. “Dia wanita licik dan sudah pasti jahat.” Komentar itu membuat Dira kaget. “Biasanya licik memang bersanding dengan jahat, tapi aku tidak mengerti apa yang membuatmu menyimpulkan hal itu?” Senja tertawa. “Percayalah, aku tahu. Jangan biarkan dia menang Dira atau aku akan marah.” Senja menatap jam tangannya. “Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan rencana seperti semula. Aku harus pulang sebelum Langit mengirim bala bantuan. Keberatan kalau kita jalan-jalan lain waktu?”
106.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 132 kali sebagai dikala senja
Baca
+Pustaka
Di Ujung Senja

Di Ujung Senja

guman suara itu yang hampir saja membuat tawa Redita meledak. Astaga, kenapa malah balik jadi manja begini sih laki-laki yang sudah hampir enam puluh tahun itu? Ah ... Redita lupa, bukankah manusia jika sudah mendekati lansia biasanya akan kembali bersikap kekanak-kanakan? "Sabtu-minggu deh nanti aku keloni, sekarang tidur sendiri dulu, oke?"
9.9266.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 5.3K kali sebagai dikala senja
Baca
+Pustaka
AMERTA (Liku Luka, Duka, dan Cinta)

AMERTA (Liku Luka, Duka, dan Cinta)

pikir Senja. Secara tiba-tiba Dipta membuka kedua matanya dan langsung menatap wajah Senja. DEG. Jantung Senja seperti melompat keluar dari tubuhnya. Darahnya terasa surut hingga ke kakinya. Posisi Senja saat ini sedang duduk menyamping di kasur yang di tempati oleh Dipta. Apa yang akan dilakukan Dipta padanya? “Re…jangan pergi ya,” lirih Dipta. “Aku…butuh kamu.”
103.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 120 kali sebagai dikala senja
Baca
+Pustaka
Duka Cita

Duka Cita

“Aku kangen.” “Baru juga kemarin sore ketemu. Lebay, ah!” Cita membuang wajahnya, menatap kolam renang. Kemudian, ia menutup mata, dan menikmati sinar matahari pagi yang masuk melewati jendela kamar yang berada di sampingnya. Meskipun sedikit terik, tetapi Cita masih bisa menikmati kehangatannya. “Gimana nanti, kalau aku tinggal.”
9.839.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.2K kali sebagai dikala senja
Baca
+Pustaka
Rindu Di Ujung Senja

Rindu Di Ujung Senja

Leon kembali mengejek Aretha sambil tertawa. "Leon!" Aretha tersipu malu, wajahnya mulai memerah. "ya sudah, kita pergi dulu ar, sampai jumpa besok," kata Kenzo sambil tersenyum. "sampai jumpa." jantung Aretha berdegup sangat kecang saat mwlihat senyuman Kenzo padanya.
103.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 134 kali sebagai dikala senja
Baca
+Pustaka
Di Antara Dua Senja

Di Antara Dua Senja

Batinya. Matahari telah menampakkan pesonanya. Embun membasahi bumi. Ayam jantan saling bersahutan berkokok. Menyambut pagi ini dengan penuh keceriaan. Perjalanan kali ini terlihat senggang. Mungkin, karena masih pagi. Fikir Raka. Mengemudikan mobilnya menuju bandara Soekarno-Hatta.
102.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 78 kali sebagai dikala senja
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
34567
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status