Aku Istri yang Tidak Dianggap
Sakit, sakit sekali, lebih sakit dari saat aku mendapat makian seorang senior ketika sedang ospek dahulu.
“Ayah, ibu, kenapa kalian ninggalin Safeea sendirian, kalau boleh meminta, ajak Saf untuk ikut kalian. Ayah, keberuntungan yang mengikuti Saf sepertinya sudah habis, hilang bersama kepergian pak Aldian. Di sini tidak ada yang sayang sama Saf. Aku sendirian, hu hu hu . . .” tangisku pecah karena merasakan sesak tiada tertahan.