Suamiku, Adik Iparku
Mentari Putricerita pendek tentang ibulirik ibu ku sayangterima kasih ibucerpen singkat tentang ibu
Ungkapan perasaan yang aku milik tak mudah hilang begitu saja, meski waktu terus menggerusnya.
“Aaarrrggghhh ... “ aku menjerit frustrasi saat hendak melanjutkan kembali puisiku. Emosi menguasai, mengingat bahwa perasaanku telah tersampaikan padanya. Menyesal, mengapa harus ia tuangkan semuanya dalam bentuk karya. Di mana karya tersebut dinikmati oleh FA itu sendiri.
Aku membenci diriku, juga kebodohanku.
“Apa kau baik-baik saja, hah?”