Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku
Marah dan sedih bercampur di wajahnya.
“Jadi semua yang aku dapat itu bukan karena aku layak? Kuliahku, pekerjaanku, semuanya karena Mas atur dari belakang tanpa aku tahu?!” seru Anindya, suaranya pecah.
“Bukan.” Arvendra menyela cepat, tegas tanpa meninggikan suara. Ada jeda, napasnya turun perlahan, lalu dia berkata lebih pelan, “Jangan pernah bilang kamu nggak layak. You worked for everything you have. You’re smart. You’re the one who walked every step of that journey. Not me.”