DEAR RANIA
"Nih, udahkan?"
Cukup lama Rakha terdiam dengan tatapan yang tak lepas dari selembar uang di tangannya. Dia tersenyum tipis seraya mengucapkan terima kasih pada si pemilik warung rokok tadi sebelum berlalu. Padahal, dia tahu jam tangan itu tidak semurah ini. Jam tangan itu ori. Pemberian dari seorang teman saat dia masih berkuliah di Kairo. Setidaknya, jika Rakha menjualnya dengan harga lima ratus ribu, pasti jam tangan itu masih laku. Sayangnya, hari ini dia benar-benar tak memiliki pilihan lain selain melepas jam itu agar dia bisa segera berangkat ke kemayoran.