Jangan Sesali Kepergianku
Suara-suara di kepalaku berteriak, menolak gagasan gila ini.
"Nggak bisa, Pa. Lusa aku harus balik ke Dongyang, ada ujian semester yang nggak bisa kutinggal." Aku berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang, walau ketegangan merayap di seluruh tubuhku. Aku ingin beliau memahami posisiku. "Kita bisa bicara baik-baik sama keluarga Javran. Minta pengertian mereka. Mereka pasti mau mengerti," balasku, dengan nada tegas, mencoba menyalurkan logika di tengah kegilaan ini. "Javran pasti pengen nikah sama perempuan yang dia cintai, bukan aku."
Hot Chapters