Ada sebuah novel indie berjudul 'Laut Bercerita' yang awalnya kupandang sebelah mata karena covernya terkesan amatir. Ternyata, setelah kubaca, ceritanya justru menggetarkan hati dengan narasi lirih tentang kehilangan dan laut sebagai metafora. Pengalaman ini mengingatkanku pada komik web 'Tower of God' yang awalnya memiliki gambar sederhana, tapi world-building-nya ternyata epik banget.
Kadang karya yang tampilannya 'biasa aja' justru menyimpan kedalaman tak terduga. Seperti kopi tubruk dalam gelas plastik—rasanya bisa lebih nikmat daripada latte art di cangkir keramik mahal. Aku sekarang selalu memberi kesempatan kedua pada buku-buku dengan desain cover kurang menarik, karena siapa tahu di dalamnya tersimpan mutiara cerita yang selama ini kucari.