Sentuhan Adik Sahabatku
“Saya cuma pengin kamu tahu.”
Sunyi menyusup di antara mereka. Kinanti menorehkan tanda tangan, lalu mendorong dokumen itu ke depan.
“Ini, Jen.”
“Makasih, Mbak.”
Jennar berdiri cepat, seolah kursi itu terlalu lama menahannya di tempat yang salah.
“Oh ya,” Kinanti menambahkan santai, “minggu depan kami lamaran. Doakan lancar, Jen.”