Di Ujung Senja
Seberang sana terdiam selama beberapa detik, lalu menjawab dengan suara rendah, "Kalau itu aku nggak bisa janji, soalnya mungkin aja aku yang mati duluan sebelum kamu."
"Kenapa?" Orang ini bicara aneh sekali, mana mungkin dia mati mendahuluiku.
"Penyakit jantung, aku cuma bertahan hidup hari demi hari saja." Nada bicara pria itu terdengar santai, seolah dia adalah seorang buronan yang sudah pasrah.
Aku menghela napas. "Kalau gitu kamu harus bertahan hidup beberapa hari lagi ya, sampai nanti aku sudah nggak kuat, aku bakal donorin jantungku buat kamu."
인기 회차