Menikahi CEO, Penyesalanku
“Apaan ini semua? Apa kamu mau buat drama lagi?”
Aku menutup koper dengan tenang, mendorongnya ke sudut, lalu menatap matanya. “Rumah terlalu berantakan. Ini buat aku stres.”
Mendengar ketenangan di suara aku, Arif pun menghembuskan napas lega. Kegelisahannya lenyap seketika.
Ia tidak peduli pada apa yang aku buang. Ia hanya peduli bahwa aku masih berada di rumah.