Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
TEA SOMMELIER GIRL ( GADIS PERACIK TEH)

TEA SOMMELIER GIRL ( GADIS PERACIK TEH)

“Nyalakan kompornya dan naikkan tempat airnya, Hino.” Koki yang di perintah menurut. Ia terlihat tak terpaksa sama sekali. Sungguh mengejutkan. Di rumah memang aku juga memasak memakai kompor listrik. Namun kadang Mbok Sumi juga memasak dengan kompor yang menggunakan bahan bakar gas. Satu teko telah di naikkan ke atas kompor. Ku dengar bunyi air yang mendidih. Hino mematikan kompor. “Kamu bisa tunggu Hino, perhatikan cara Renata membuat dan menyeduh teh.”
102.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 66 kali sebagai kompor mata satu
Baca
+Pustaka
Surat Kecil Dari Mama

Surat Kecil Dari Mama

Ia baru menyadari bosnya ini ternyata lucu juga yah. "Tombolnya ditekan nyonya." Kompor di kediaman keluarga Husein bukanlah kompor gas yang ada dirumah kalian, melainkan kompor dengan energi listri, yang mengunakan tombol untuk mematikan atau menghidupkan. "Kill bantu aku potong sayur yah! Aku mau belajar masak kari yang sehat untuk keluargaku, semoga mereka suka!" "Aamiin!"
105.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 136 kali sebagai kompor mata satu
Baca
+Pustaka
AIR MATA RINDU

AIR MATA RINDU

Rasanya sudah penasaran sekali melihat semua ruangan di rumah ini. Ruangan kedua yang kami kunjungi adalah dapur. Kabinet warna hitam mengkilap sungguh memberi kesan elegan dan mewah. Jangan lupakan meja makan dengan empat kursi di tengah ruangan yang tak kalah indahnya. "Hem, sepertinya ini akan jadi tempat favoritku." Aku berkomentar dengan pandangan yang masih sibuk mengeliling. "Oh, jelas nggak bisa!" tolak Mas Janu.
1013.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 318 kali sebagai kompor mata satu
Baca
+Pustaka
DIKIRA MISKIN

DIKIRA MISKIN

Aku tersenyum. "Betul itu. Nggak perlu bawa perabotan banyak-banyak. Mau ditaruh di mana nanti? Rumah kamu kan tipe 6S? Mana muat untuk menampung perabotan ibu yang banyak ini. Bisa-bisa nanti malah ditaruh di genting," ucap Mbak Ranti. "Kalau begitu buat aku saja. Komporku sudah karatan, wajan juga sudah bolong dan kutambal," ucap Mbak Wiwid seraya meraih kompor yang tadinya hendak dibawa Ibu.
10105.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.6K kali sebagai kompor mata satu
Baca
+Pustaka
MEMATAHKAN SUMPAH IBU

MEMATAHKAN SUMPAH IBU

Sementara kakakku itu tetap melanjutkan aksinya menyabotase komporku. Di dapur ini hanya tersedia empat tungku kompor. Satu sedang dipakai Mama memasak sarapan untuk Papah. Dua lagi sedang dipakai Kak Eugenie untuk memasak bubur serta membuat opor ayam. Sementara Kak Damien biasa memasak menggunakan peralatan elektronik yang dibelinya sendiri; microwave, air fryer, serta alat kukusan elektronik yang aku tak tahu namanya, tapi kudengar Mama kurang suka karena sangat boros listrik.
102.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 85 kali sebagai kompor mata satu
Baca
+Pustaka
TERPAKSA AKU PERGI,MAS

TERPAKSA AKU PERGI,MAS

" pinta Mbak Ida. "Iya Mbak Ida. " Ternyata Mbak Ida masaknya di dapur luar di sana ada dua dapur yaitu dapur dalam dan dapur luar. Dapur dalam itu untuk memasak makanan yang kecil atau menghangatkan makanan karena kompornya kompor tanam yang seperti keramik sebelumnya aku juga tidak tahu kalau itu adalah kompor karena hampir tidak terlihat namun ketika aku mendekat dan Mbak Ida mengajariku baru terlihat kalau itu adalah kompor.
105.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 143 kali sebagai kompor mata satu
Baca
+Pustaka
Wanita yang Menolak Lamaranku

Wanita yang Menolak Lamaranku

Hanya ada kompor satu tungku, sebuah rak piring dan gentong plastik tempat menyimpan air. Aku menelan ludah. Dari awal aku sudah membayangkan kalau dapurku nanti sudah menggunakan kompor elektrik, tapi pada kenyataannya masih menggunakan gas. "Ditunggu, ya, nggak pakai lama," seru ibu mertua dari ruang tamu yang tidak jauh dari sini. Terong? tahu? pantas saja Mas Malik saat berada di rumahku makan dengan lahap ternyata disini ia sudah terbiasa makan seadanya. Oh my God, ini adalah mimpi buruk bagiku.
895.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.3K kali sebagai kompor mata satu
Baca
+Pustaka
MATI RASA

MATI RASA

"A-abi! Sarapannya sudah siap! Umi lagi nungguin Abi supaya bisa sarapan bersama." "Ya sudah ayo kita masuk!" Beranjak dari tempatnya. Diruang tengah yang tidak terlalu besar namun sangat nyaman untuk keluarga sederhana itu, mereka semua menikmati makanan dengan kidmad. Suasana begitu hening hanya terdengar suara piring yang beradu dengan sendok, sampai akhirnya abi Ilyas menghentikan makannya dan memberi tahu sesuatu.
107.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 152 kali sebagai kompor mata satu
Baca
+Pustaka
Mati Satu Tumbuh Seribu

Mati Satu Tumbuh Seribu

Rani berbalik dan membuka lemarinya untuk memamerkan lebih banyak barang mewah pemberian Galang. Acara siaran langsung miliknya pun makin banyak yang menonton. Tunggu ... kenapa dekorasi kamarnya terlihat familier? Aku langsung duduk tegak dan menatap layar dengan saksama. Sebuah pemikiran absurd melintas di benakku. Jangan-jangan ....
8.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 174 kali sebagai kompor mata satu
Baca
+Pustaka
Guru Cantik Simpanan Anak Pejabat

Guru Cantik Simpanan Anak Pejabat

Menu sederhana yang sudah dirancang, mulai dipersiapkan. Cekatan dan sangat menguasai semua peralatan dan bahan yang akan diolah membuat Mutia lupa jika sudah menghidupkan kompor, tetapi ternyata tidak menyala. Ketika perempuan itu menyalakan tungku yang belum sempat dihidupkan, api langsung menyambar. "Mas Bagas," teriak Mutia keras. Jarak antara teras dan dapur yang terbilang dekat membuat Bagas dengan cepat menghampiri sang pemilik rumah kontrakan.
104.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 149 kali sebagai kompor mata satu
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status