Kami Yang Tak Pernah Ada di Hatimu
"Mas khilaf Syaina, Mas khilaf. Mas ingin menyudahi semuanya tapi dia ... terlanjur hamil."
Suaranya menggema, menusuk lalu mencabik-cabik hati ini. Aku menghela napas berat. Air mata sejenak berhenti, tersenyum perih lalu menit berikutnya air mata kembali lolos dari persembunyiannya.
Sepahit apapun hidup, jika dia minta aku bertahan. Akan kusanggupi selagi hanya aku satu-satunya. Tapi jika hati sudah terbagi, maka lebih baik aku yang mengalah.