Ada sesuatu tentang baris itu yang selalu membuat dadaku bergetar.
Secara harfiah, 'roqqota aina ya syauqon' bisa diterjemahkan menjadi sesuatu seperti 'mataku menjadi lembut, wahai kerinduan'. Kata 'roqqota' berasal dari akar kata yang membawa makna kelembutan atau pelunakan hati; 'aina' merujuk pada mata; sedangkan 'ya' adalah huruf seruan yang memanggil atau mengalamatkan sesuatu—dalam hal ini 'syauqon' atau 'shawq', yang artinya kerinduan atau rindu yang dalam. Jadi gambarnya jelas: seseorang yang matanya melunak karena terbawa rindu.
Dari perspektif keislaman, baris ini mudah disambungkan dengan pengalaman ruhani yang sangat manusiawi—rindu kepada Allah, Nabi, kampung halaman akhirat, atau bahkan rindu yang menggerakkan seseorang untuk berubah dan kembali ke jalan yang benar. Tradisi sufi kerap memakai istilah 'shawq' untuk menggambarkan rindu yang membara kepada Sang Pencipta; puisi-puisi Rumi misalnya sering menarasikan rindu yang membuat raga dan hati 'melembut'. Dalam ibadah, kelembutan hati sampai mata berkaca-kaca sering dipandang sebagai tanda khushu' dan ketulusan, bukan kelemahan.
Tetapi penting juga membedakan arah rindunya: apabila rindu itu mengantarkan pada kebaikan—doa, taubat, mendekatkan diri—maka ia dipuji. Jika rindu itu membuat seseorang melanggar batas-batas syariat atau terjebak dalam obsesi pada duniawi, maka perlu dikontrol. Bagiku pribadi, tiap kali mendengar frasa seperti ini aku teringat untuk menanyakan pada diri: rindu ini membawaku ke mana? Itu yang sering mengubah rindu jadi amal atau jadi penyesalan.