Sampai Kau Ingat Aku
“
Suara Zea mengalun bening, lembut, namun menyimpan getaran yang menyayat. Arkan memusatkan seluruh indranya. Suara itu bukan sekadar bernyanyi; suara itu seolah sedang bercerita tentang kehilangan yang belum tuntas..
“Masih jelas teringat pelukanmu yang hangat,
Seakan semua tak mungkin menghilang,
Kini hanya kenangan yang telah kau tinggalkan,
Tak tersisa lagi waktu bersama.”
Zea melepaskan mikrofon dari tiangnya, berjalan perlahan ke sisi panggung. Posisi itu membuat Arkan bisa melihat profil wajahnya dengan sangat jelas. Di bawah sorot lampu panggung yang dramatis, Zea terlihat bersinar terang, seperti bintang tunggal di langit malam yang membuat segala hal di sekelilingnya menjadi buram
Hot Chapters