Luka Seorang Istri
Kali ini perempuan itu menarik lengangku ke halaman samping rumahnya, hanya di sana yang masih punya space kosong.
“Dil kamu tahu kan Mas mau kita bersama secepatnya, Mas sudah dapat restu dari Ibu, tenang saja insyaallah Ibu enggak akan ganggu kita, percaya sama Mas, kita mulai lagi ya dari awal.”
Aku hampir saja hendak menggapai lengan Dilra, tapi wanita itu segera mundur selangkah dariku.
“Mas yakin?” tanyanya.
“Lebih dari yakin.”